
Kabar miris tentang kehidupan tenaga kerja wanita (TKW) asal Aceh kembali datang dari Malaysia. Kali ini, kejadian tidak mengenakkan di negeri orang, dialami oleh Roslina (43), seorang perempuan asal Kota Banda Aceh.
Kisah sedih yang menimpa Ros ini diceritakan oleh Bukhari bin Ibrahim (45), tokoh Aceh di Malaysia melalui pesan WhatsApp kepada Serambi, Jumat (15/11). “Alhamdulillah, setelah hampir dua bulan mencari solusi, hari ini (Jumat kemarin-red) Kak Ros telah kita terbangkan ke kampung halaman, tapi melalui bandara Kulanamu Medan, untuk menjumpai keluarga terdekatnya yang berdomisili di Medan,” kata Bukhari.
Bukhari mengatakan, sejak dua bulan lalu, Ros tinggal di rumahnya di Kuala Lumpur Malaysia. Perempuan asal Lampaseh Banda Aceh ini lari dari rumah majikannya, karena tidak tahan setiap hari dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak patut bagi seorang muslim, yaitu memandikan anjing dengan memakai sabun, dan tidak boleh memakai sarung tangan.
Selain itu, Ros juga tidak boleh memakai pakaian muslimah. Tapi harus memakai baju pendek, dengan rambut dipangkas sebahu. “Shalat juga hanya boleh dilakukan sekali saja dalam sehari. Intinya, selama sebulan lebih, Kak Ros melewati hari-hari penuh dosa,” ungkap Bukhari.
Pria asal Dama Pulo I, Idi Cut Aceh Timur ini menceritakan, hari-hari kelam dalam hidup Ros ini berawal ketika tiga bulan lalu, sekitar bulan Juli 2019, dia menerima tawaran bekerja di Malaysia. Ros yang mengaku tidak berpendidikan tinggi dan terlilit kemiskinan, tidak tahu jika dia telah menjadi korban perdagangan manusia.
Ros merasa tertarik dengan tawaran agen ilegal itu, karena dijanjikan menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga yang baik. Namun, faktanya, di Malaysia, Ros ditempatkan di keluarga nonmuslim. Sehingga hari-harinya dia harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan norma-norma agama Islam yang dianutnya.
Selama satu bulan lebih Ros mencoba menjalani hari-hari terberat dalam hidupnya. Hingga kemudian dia memutuskan melarikan diri dari rumah itu dan meminta perlindungan kepada Persatuan Masyarakat Aceh di Klang.
“Setelah beberapa hari kemudian, pihak persatuan (masyarakat Aceh di Klang) menghubungi saya melalui HP untuk memohon menguruskan paspor (SPLP) bagi tujuan memulangkan Kak Ros ke kampung halaman. Paspor Kak Ros telah disita oleh agen,” ungkap Bukhari.
Perlu waktu dua bulan bagi Bukhari untuk mencari solusi. Dia harus mencari dukungan dan sumbangan untuk kebutuhan membuat Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), serta membeli tiket untuk memulangkan Ros ke Aceh.
“Saya kemudian mengajukan permohonan pembuatan SPLP ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Alhamdulillah, tiga hari lalu permohonan saya dikabulkan oleh pihak kedutaan. SPLP yang saya mohon siap dalam waktu satu jam sahaja,” kata Bukhari.
Setelah mendapatkan paspor, Bukhari kemudian menggalang sumbangan untuk kebutuhan memulangkan Roslina. “Alhamdulillah, berkat bantuan kawan-kawan, terkumpul sejumlah dana untuk kepulangan Kak Roslina. Dan hari ini tanggal 15/11/19 pukul 9.45 pagi, Kak Roslina telah kita terbangkan dengan pesawat Air Asia ke Bandara Kualanamu, Sumatera Utara,” ujar Bukhari.
Pria yang sejak dua tahun terakhir intens membantu warga Aceh yang mengalami masalah dan kemalangan di Malaysia ini, kembali mengingatkan para perempuan Aceh untuk tidak mudah termakan bujuk rayu bekerja di Malaysia. Ia memaparkan, dari beberapa kasus yang ditanganinya di Malaysia, diperoleh kesimpulan awal bahwa para korban penipuan agen tenaga kerja ilegal ini adalah gadis dan janda dari keluarga broken home, berpendidikan rendah, dan terlilit kemiskinan.
“Kalau pun ingin menjadi TKW di luar negeri, maka hendaknya melalui agen TKI yang resmi. Sehingga jika terjadi apa-apa ada tempat untuk mengadu,” pungkas Bukhari.(nal)
"hari" - Google Berita
November 16, 2019 at 08:45AM
https://ift.tt/2QoCI92
Duka TKW Aceh di Malaysia, Satu Bulan Lebih Kak Ros Lewati Hari-hari Penuh Dosa - Serambi Indonesia
"hari" - Google Berita
https://ift.tt/30byRRZ
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Duka TKW Aceh di Malaysia, Satu Bulan Lebih Kak Ros Lewati Hari-hari Penuh Dosa - Serambi Indonesia"
Post a Comment